Mengenal Infeksi Mpox atau Cacar Monyet

Pada tahun 2024, Indonesia telah melaporkan beberapa kasus Mpox di berbagai daerah, termasuk di beberapa kota besar dan daerah endemik. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melaporkan bahwa sejak tahun 2022 telah ditemukan 88 kasus terkonfirmasi di seluruh Indonesia. Kasus pertama tahun ini ditemukan di provinsi dengan aktivitas kesehatan masyarakat yang tinggi, seperti DKI Jakarta dan Jawa Barat, dengan beberapa kasus tambahan yang dilaporkan di daerah lain. Kasus-kasus ini umumnya terkait dengan perjalanan internasional dan kontak dengan individu yang terinfeksi. Beberapa infeksi juga dilaporkan di komunitas lokal, terutama di daerah dengan sanitasi dan kondisi hidup yang kurang optimal.
Mpox, atau dikenal juga sebagai cacar monyet, adalah infeksi virus yang disebabkan oleh virus monkeypox dari genus Orthopoxvirus. Mpox adalah penyakit zoonotik yang awalnya ditemukan pada monyet di laboratorium pada tahun 1958 dan pertama kali dilaporkan pada manusia di Republik Demokratik Kongo pada tahun 1970. Penyakit ini mirip dengan cacar tetapi biasanya lebih ringan dan jarang menular.
Mpox dapat menyebar lewat kontak langsung dengan seseorang yang terinfeksi, melalui cairan tubuh, ruam, atau benda yang terkontaminasi misalnya linen dan jarum suntik. Penularan juga bisa terjadi melalui kontak dengan hewan yang terinfeksi, seperti tikus dan monyet. Penyakit ini dapat menyebar dari manusia ke manusia melalui kontak erat, terutama dalam kondisi sanitasi yang buruk atau jika individu tidak menggunakan pelindung yang memadai.
Infeksi Mpox menimbulkan gejala dalam 1-2 minggu setelah terpapar. Gejala Mpox mirip dengan cacar tetapi umumnya lebih ringan. Gejala awal termasuk demam, sakit kepala, nyeri otot, dan kelelahan. Setelah beberapa hari, ruam khas muncul, biasanya dimulai dari wajah dan menyebar ke seluruh tubuh, termasuk tangan dan kaki. Ruam tersebut berkembang melalui beberapa tahap: bintik-bintik merah, papula, vesikel, dan pustula, sebelum akhirnya mengering dan membentuk kerak. Gejala ini dapat bertahan selama 2-4 minggu dan mungkin lebih lama pada orang dengan kondisi imunitas yang lemah.
Diagnosis Mpox umumnya dilakukan melalui pemeriksaan klinis dan konfirmasi laboratorium. Tes diagnostik meliputi PCR (Polymerase Chain Reaction) untuk mendeteksi materi genetik virus mpox dari sampel lesi atau cairan tubuh. Tes serologi juga dapat digunakan untuk mendeteksi antibodi terhadap virus.
Saat ini, tidak ada pengobatan khusus yang tersedia untuk Mpox. Pengobatan lebih bersifat simtomatik dan bertujuan untuk meredakan gejala serta mencegah komplikasi. Perawatan termasuk manajemen nyeri, hidrasi yang cukup, dan perawatan luka. Vaksin cacar dapat memberikan perlindungan terhadap mpox, dan vaksinasi mungkin direkomendasikan untuk kontak dekat dengan kasus yang terkonfirmasi.
Langkah-langkah pencegahan meliputi:
- Mencuci tangan secara teratur dengan sabun dan air atau pembersih tangan
- Menggunakan masker dan sarung tangan saat merawat pasien yang terinfeksi
- Memastikan ventilasi rumah baik
- Menjaga kebersihan lingkungan dan sanitasi yang baik untuk mencegah penyebaran virus
- Menghindari kontak langsung dengan hewan yang mungkin terinfeksi, terutama di daerah endemik
Daftar Pustaka:
- Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2021). Monkeypox. Retrieved from [https://www.cdc.gov/poxvirus/monkeypox/index.html](https://www.cdc.gov/poxvirus/monkeypox/index.html).
- World Health Organization (WHO). (2024). Monkeypox. Retrieved from [https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/monkeypox](https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/monkeypox).
- Kementrian Kesehatan RI. Update Mpox Minggu ke 34 dan ke 35 2024 (18 - 31 Agustus 2024). diakses dari: https://infeksiemerging.kemkes.go.id/situasi-mpox/update-mpox-minggu-ke-34-dan-ke-35-2024-18-31-agustus-2024