Mental Anda Sehat?

Memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 10 Oktober 2024
Bertubi-tubi berita tentang perundungan (bullying), mahasiwa bunuh diri, kasus-kasus amoral, kekerasan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, dan pembunuhan muncul dalam beberapa bulan terakhir. Begitu mengerikan kejadian-kejadian yang ada di sekeliling kita, dan pasti menimbulkan gangguan terhadap mental para pembaca berita. Apalagi berita-berita ini bertebaran dalam media sosial yang sangat banyak pemirsa dan pembacanya, karena Indonesia dikenal sebagai pasar media sosial yang sangat potensial.
Data nasional dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menemukan bahwa terdapat 9,8% Masyarakat Indonesia di atas usia 15 tahun, atau sekitar 19 juta jiwa, yang mengalami gangguan mental emosional (GMO) dengan gejala berupa depresi dan cemas. Sementara yang mengalami gangguan mental berat terdata sebanyak 1,8 per 1000 penduduk atau sekitar 450 ribu orang. Angka ini menakjubkan karena bisa disebut cukup tinggi jumlah penderita gangguan mental yang ada. Sementara penanganan penderita gangguan mental masih belum optimal karena keterbatasan tenaga Kesehatan dan dokter spesialis jiwa.
Kesehatan mental atau Kesehatan jiwa adalah kondisi Dimana seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan/stress, dapat bekerja secara produktif dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya ( Undang-Undang no. 18 tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa). Maka dapat diasumsikan bahwa kondisi yang tidak sesuai dengan definisi tersebut, boleh disebut mengalami gangguan mental.
Selanjutnya, bagaimana gejala yang muncul dan disebut sebagai gangguan mental itu? Ada banyak gejala yang muncul sesuai dengan berat ringan penyebab dan kemampuan seseorang menghadapi tekanan. Gejala-gejala yang muncul bisa berupa:
- Halusinasi, yaitu sensasi Ketika seseorang melihat, mendengar, atau merasakan sesuatu yang tidak nyata
- Waham/ delusi, yaitu meyakini sesuatu yang tidak nyata atau tidak sesuai dengan fakta
- Perasaan sedih yang berkepanjangan
- Merasa cemas berlebihan terhadap sesuatu
- Suasana hati yang berubah-ubah dengan cepat
- Gangguan makan
- Perubahan pola tidur
- Perilaku tidak wajar
- Marah-marah tanpa sebab
- Selain gejala seperti di atas, dapat juga muncul gejala fisik yang berkaitan dengan gejala non fisiknya, seperti mual setiap melihat sesuatu dll.
Jika merasa mengalami gejala-gejala tersebut, yang dapat dilakukan pertama kali adalah bercerita/berbagi kepada orang terdekat yang dianggap bisa dan mampu mendengarkan. Keluarga, sahabat, kekasih bisa menjadi pilihan. Jika memang tidak ada orang terdekat, bisa memilih banyak instansi kesehatan atau hotline service yang menyediakan sarana untuk curhat. Dengan bercerita, maka akan mengurangi sedikit beban dan mungkin mendapatkan alternatif solusi untuk permasalahan yang ada.
Fasilitas pelayanan Kesehatan seperti puskesmas, klinik dan rumah sakit juga bisa menjadi pilihan untuk memeriksakan diri. Tidak perlu kuatir akan diketahui banyak orang, karena semua tenaga Kesehatan sudah menjalani sumpah untuk menyimpan rahasia pasien.
Gangguan mental sebenarnya dapat dicegah, dengan beberapa cara, seperti:
- Selalu berbagi dengan saudara atau teman saat ada masalah
- Hidup teratur dan seimbang antara olah raga dan kegiatan sehari-hari
- Berpartisipasi aktif dalam pergaulan yang positif
- Tidak merokok dan tidak menggunakan napza
- Konsumsi makanan dan minuman sehat setiap hari
- Jadwal tidur/istirahat teratur
Maka sayangi dan jaga Kesehatan mental Anda dari sekarang.