Menyambut Hari Rabies Sedunia 28 September 2024: Fakta tentang Rabies

Rabies adalah infeksi akut yang disebabkan virus rabies yang menyerang sistem saraf pusat manusia dan mamalia. Angka mortalitas pada rabies adalah 100%. Walaupun sudah ada vaksin rabies yang efektif dan aman bagi manusia dan hewan untuk pencegahan, sampai saat ini rabies masih menjadi masalah kesehatan diberbagai negara termasuk Indonesia. Mortalitas rabies dapat dikurangi bila penyakit ini cepat diketahui dan disertai penatalaksanaan yang cepat dan tepat.
Hewan yang dapat menularkan Rabies
Hewan yang dapat menularkan penyakit rabies pada manusia diantaranya adalah anjing, kucing, kera, sigung, serigala, raccoon dan kelelawar. Selain hewan ini, ada beberapa hewan liar yang dapat menularkan rabies yaitu rubah, musang, dan anjing liar. Di Indonesia, hewan yang paling sering menularkan rabies pada manusia adalah anjing (98%) dan sisanya ditularkan oleh kucing dan kera (2%).
Cara penularan
Virus rabies terdapat pada air liur hewan yang sakit rabies dan biasanya ditularkan kepada manusia/hewan melalui jilatan, cakaran atau gigitan hewan yang terjangkit rabies pada kulit yang terluka atau selaput lendir mata dan mulut.

Penanganan luka gigitan/cakaran hewan penular rabies:
- Segera cuci luka gigitan/cakaran anjing, kucing, kera, dan hewan penular rabies lainnya dengan menggunakan deterjen/sabun dan air mengalir selama 15 menit kemudian berikan antiseptic.
- Segera berobat ke faskes terdekat seperti Puskesmas atau RS untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
- Segera menghubungi Dinas Peternakan untuk melaporkan hewan penggigit.
Gejala Rabies pada Manusia:
- Demam.
- Badan lemas.
- Mengalami sakit kepala hebat.
- Sakit tenggorokan.
- Penurunan nafsu makan.
- Insomnia.
- Kesemutan atau mengalami rasa panas di lokasi gigitan.
- Sebelum meninggal, akan mulai timbul beberapa phobia seperti phobia pada air (Hydrophobia), aerofobia, dan fotofobia.
Masa inkubasi virus rabies berkisar antara 4 - 12 minggu, setelah masa inkubasi orang yang tertular virus rabies akan mengalami gejala mirip flu, demam otot melemah, kesemutan atau merasa terbakar di area gigitan, sakit atau nyeri kepala, demam, mual dan muntah, merasa gelisah, bingung atau terancam tanpa ada penyebab, hiperaktif, halusinasi, insomnia atau gangguan tidur, kesulitan menelan ketika makan atau minum serta produksi air liur berlebih. Gejala rabies pada manusia berkembang secara bertahap dimulai dengan gejala awal yang mirip flu lalu berkembang menjadi gangguan neurologis berat. Meski bisa berakibat fatal, pasien tetap berpeluang sembuh asal segera diobati setelah terpapar virus rabies.

Cara Penanganan Luka Gigitan Hewan Rabies Pada Manusia (Post-esposure Treatment (PET):
- Cuci luka gigitan secepatnya dengan sabun/deterjen pada air mengalir selama 15 menit lalu diberi antiseptik seperti obat merah dan sejenisnya.
- Segera pergi ke Rabies Center (Puskesmas atau Rumah Sakit) untuk dilakukan kembali pencucian luka dan mendapatkan Vaksin Anti Rabies (VAR) atau VAR dan Serum Anti Rabies (SAR) sesuai indikasi.
- Berikan Serum Anti Rabies (SAR) seusai indikasi penanganan luka gigitan hewan rabies sesegera mungkin sehingga efektif mencegah timbulnya gejala dan resiko kematian.
Pemeriksaan penunjang pada pasien yang telah menunjukkan gejala:
- Tes PCR, dengan menggunakan sampel air liur hingga cairan serebrospinal.
- Tes antibodi, untuk mendeteksi antibodi yang melawan virus rabies dengan mengambil sampel air liur atau darah pasien.
- Biopsi kulit.
Tindakan pencegahan dengan cara mengurangi faktor-faktor risiko, yaitu:
- Melakukan vaksinasi rabies pada hewan peliharaan.
- Mendapatkan vaksin rabies untuk diri sendiri.
- Menghindari kontak dengan hewan yang berpotensi terjangkit rabies.
- Menjaga hewan peliharaan agar tidak berinteraksi dengan hewan liar atau asing yang berpotensi menularkan rabies.
- Melaporkan ke petugas kesehatan terkait jika menemui seseorang atau hewan yang bergejala rabies.
- Cegah hewan-hewan liar yang berpotensi menyebarkan rabies masuk kedalam rumah.
Oleh: dr. Hari Setyo Wahyu Cahyono, Sp.PD, M.H.Kes.