Migrain

Migrain merupakan salah satu keluhan utama yang banyak ditemui di sarana layanan kesehatan. Gejala yang paling sering adalah nyeri kepala hebat yang terjadi secara episodik. Migrain menyerang lebih banyak pada wanita dibandingkan pria, dan seringkali mencapai puncaknya di 2 fase kehidupan yaitu saat pubertas dan/atau perimenopause. Migrain dapat menurunkan kualitas hidup penderita dari segi mental, fisik, finansial, beban medis, sosial dan pribadi bila tidak ditangani secara tepat.
Migrain seringkali dialami oleh satu keluarga. Pasien mungkin mengidapnya karena orang tua atau kerabatnya telah memiliki riwayat migrain. Ada pula faktor lain yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang menderita migrain, yaitu paparan lingkungan (contoh: cahaya terang, suara bising, perubahan cuaca, atau bau yang kuat), stress secara fisik dan emosional, kurang tidur, perubahan hormonal (terutama pada wanita akibat siklus menstruasi atau menopause), pola makan yang buruk, dehidrasi, dan lain-lain.
Sebelum timbul sakit kepala, pasien sering kali mengalami gejala seperti rasa lelah, sulit berkonsentrasi, dan leher kaku. Berdasarkan International Classification of Headache Disorders edisi ke 3 (ICHD-3), gejala migrain antara lain:
- Sakit kepala sebanyak 5 kali atau lebih dalam seumur hidup/li>
- Sakit kepala berlangsung selama 4-72 jam
- Terdapat minimal 2 dari 4 gejala berikut, antara lain lokasi unilateral/salah satu sisi kepala, bersifat berdenyut atau seperti ditusuk, intensitas nyeri sedang hingga berat, kualitas nyeri meningkat akibat aktivitas fisik
- Terdapat minimal 1 dari gejala berikut: mual dan/atau muntah, fotofobia (sensitif terhadap cahaya), fonofobia (sensitif terhadap suara)
Migrain diklasifikasikan menjadi 3 kategori, yaitu:
- Migrain tanpa aura: sakit kepala migrain yang terjadi tanpa tanda-tanda atau gejala. Migrain tanpa aura didiagnosis setelah pasien diketahui memiliki sejarah serangan migrain sebanyak lima kali. Tanda-tanda yang mengawali sakit kepala migrain disebut aura. Tanda-tanda yang dirasakan sebelum terjadi migrain ini umumnya berupa masalah penglihatan (kilatan cahaya pada mata), kekakuan pada leher dan kesemutan pada anggota tubuh.
- Migrain dengan aura: juga dikenal sebagai migrain klasik. Aura terjadi pada sekitar sepertiga penderita migrain dan berlangsung dalam beberapa menit dengan durasi total hingga 60 menit. Aura dapat muncul tanpa sakit kepala, terutama pada pasien usia lanjut, dan dapat terjadi sebelum, selama, atau setelah sakit kepala. Aura tidak hanya ditemui pada migrain, namun dapat terjadi pada sakit kepala lainnya.
- Migrain kronis: adalah sakit kepala minimal 15 hari per bulan, dengan delapan di antaranya mengalami gejala migrain, minimal selama tiga bulan.
Dulu, orang mengira serangan migrain disebabkan oleh pembuluh darah kepala yang mengalami penyempitan kemudian menjadi melebar. Namun sekarang, diketahui bahwa pernyataan tersebut tidaklah benar. Migrain kini diketahui sebagai gangguan aktivitas saraf di dalam otak. Serangan dan gejala timbul akibat perubahan aktivitas saraf di area otak tertentu. Saraf ini mengirimkan sinyal ke saraf lain dan organ tubuh sehingga menghasilkan berbagai gejala yang berbeda.
Faktor-faktor yang dapat meringankan gejala migrain antara lain tidur/istirahat yang berkualitas, disarankan di ruangan gelap dan tenang, beristirahat dengan posisi diam (jika terdapat riwayat yang mengindikasikan sensitivitas terhadap gerakan atau kinesiofobia), menghindari parfum/cologne atau bahan dengan bau kuat lainnya (jika terdapat riwayat yang mengindikasikan sensitivitas terhadap penciuman atau osmofobia).
Modifikasi gaya hidup sehat dapat mencegah serangan migrain, kiat-kiat yang dapat dilakukan antara lain makan secara teratur dengan menu sehat, tidur teratur dan berkualitas, menghindari kelebihan konsumsi gula/karbohidrat, menghindari konsumsi kafein berlebih, latihan kardio (dianjurkan sekitar 30 menit per hari), manajemen stress dan kesehatan mental.
Sumber:
- P2PTM Kemenkes
- American Headache Society
- British Association For The Study of Headache