Rokok Konvensional dan Elektrik: Dua Wajah Berbeda, Bahaya yang Sama
Merokok telah lama dikenal sebagai penyebab utama berbagai penyakit kronis, mulai dari kanker paru hingga serangan jantung. Namun dalam beberapa tahun terakhir, muncul tren baru: rokok elektrik atau vape. Banyak masyarakat beralih ke rokok elektrik dengan harapan mengurangi risiko kesehatan. Sayangnya, berbagai penelitian menunjukkan bahwa rokok elektrik tidaklah seaman yang dikira. Baik rokok konvensional maupun elektrik sama-sama membawa dampak buruk bagi kesehatan tubuh.
Rokok konvensional mengandung lebih dari 7.000 bahan kimia, dan lebih dari 70 di antaranya diketahui bersifat karsinogenik (menyebabkan kanker). Kandungan tar dan karbon monoksida dari pembakaran tembakau berkontribusi besar pada kerusakan paru-paru dan jantung. Sebuah studi dari World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa merokok menjadi penyebab kematian lebih dari 8 juta orang per tahun secara global.
Di sisi lain, rokok elektrik memang tidak menghasilkan asap, melainkan aerosol yang terbentuk dari pemanasan cairan nikotin. Namun, aerosol ini tetap mengandung zat beracun seperti formaldehida, asetaldehida, dan logam berat seperti timbal dan nikel. Sebuah studi oleh National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine (2018) menyatakan bahwa rokok elektrik meningkatkan risiko penyakit jantung, paru, dan kerusakan sel, terutama jika digunakan dalam jangka panjang.
Salah satu kekhawatiran utama dari rokok elektrik adalah kandungan nikotinnya. Banyak orang yang tidak menyadari bahwa rokok elektrik juga mengandung nikotin dalam kadar tinggi, bahkan lebih tinggi dari rokok biasa. Nikotin adalah zat adiktif yang dapat meningkatkan tekanan darah, memicu adrenalin, dan menyebabkan gangguan irama jantung. Selain itu, nikotin dapat mengganggu perkembangan otak pada remaja dan ibu hamil.
Penelitian yang diterbitkan di Journal of the American Heart Association (2020) menemukan bahwa pengguna rokok elektrik memiliki risiko 34% lebih tinggi terkena serangan jantung dibandingkan non-perokok. Risiko ini meningkat jika pengguna juga merokok konvensional secara bersamaan, yang dikenal sebagai "dual use".
Bahaya rokok elektrik juga terlihat dari meningkatnya kasus EVALI (E-cigarette or Vaping Use-Associated Lung Injury), terutama di Amerika Serikat. Pada 2019, lebih dari 2.800 kasus dan puluhan kematian dilaporkan akibat gangguan paru akut yang berkaitan langsung dengan penggunaan vape. Gejalanya mulai dari sesak napas, batuk, hingga gagal napas yang memerlukan perawatan intensif.
Tak hanya kesehatan pribadi, rokok—baik konvensional maupun elektrik—juga berdampak buruk terhadap lingkungan. Puntung rokok konvensional menjadi limbah terbesar di dunia, sementara limbah cartridge dan baterai dari rokok elektrik juga menambah beban pencemaran lingkungan, terutama dalam hal limbah elektronik yang sulit terurai.
Perlu diketahui juga bahwa keberadaan rokok elektrik justru membuka peluang ketergantungan nikotin pada generasi muda. Banyak produk vape dikemas dalam bentuk dan rasa yang menarik bagi anak-anak dan remaja, seperti permen atau buah-buahan. Hal ini bisa menjadi "gerbang masuk" menuju kecanduan nikotin sejak usia dini.
Masyarakat perlu mendapatkan edukasi yang benar bahwa rokok elektrik bukanlah "alternatif aman", melainkan hanya bentuk lain dari kecanduan nikotin dengan risiko yang berbeda. Kampanye pencegahan dan penghentian merokok harus mencakup kedua jenis rokok ini agar tidak menimbulkan salah kaprah.
Langkah terbaik untuk melindungi diri dan keluarga dari dampak rokok adalah dengan berhenti merokok sepenuhnya. Konsultasikan dengan dokter atau layanan kesehatan untuk mendapatkan bantuan berhenti merokok. Ingatlah, setiap hisapan mengandung risiko, dan tidak ada bentuk rokok yang benar-benar aman.