Solusi Mudah dan Murah untuk Kesehatan Mental yang Tersembunyi
Sering kali, kita membayangkan masalah kesehatan mental itu seperti sebuah film yang dramatis adanya tangisan, serangan panik, atau kesedihan mendalam yang terlihat dari luar. Padahal, kenyataannya sering jauh lebih senyap. Masalah itu bisa hadir dalam bentuk yang tak terduga, merayap perlahan tanpa kita sadari, menggerogoti kualitas hidup dari dalam.
Saat kita terus memendam masalah sendirian, dampaknya bisa muncul dalam wujud yang tidak kita sangka. Ini bukan lagi soal perasaan sedih saja, tapi bisa berubah menjadi:
- Masalah fisik yang tidak jelas. Pernahkah Anda sering sakit kepala, sakit perut kronis, atau merasa pegal-pegal padahal tidak melakukan aktivitas berat? Itu bisa jadi cara tubuh Anda berteriak karena lelahnya menanggung beban pikiran.
- Munculnya perubahan perilaku yang tanpa disadari. Anda mungkin jadi lebih gampang marah, menarik diri dari teman-teman, atau sebaliknya, malah jadi sangat sibuk sampai tidak punya waktu untuk diri sendiri. Perilaku ini sering kita anggap sebagai 'sifat' baru, padahal bisa jadi ini adalah cara kita mencoba lari dari perasaan yang tidak nyaman.
- Penuruan produktivitas ditandai dengan susah fokus, sering lupa, atau merasa lelah terus-menerus bisa sangat mengganggu pekerjaan ataupun proses studi. Mungkin kita menganggap ini hanya karena kurang tidur, padahal bisa jadi sinyal bahwa mental kita sudah terlalu lelah.
- Ketidakstabilan emosi bisa membuat kita gampang tersinggung atau bertengkar dengan orang terdekat. Akibatnya, hubungan dengan pasangan, keluarga, atau teman bisa perlahan-lahan merenggang, membuat kita merasa semakin sendirian.
Setelah menyadari berbagai dampak yang sering tak terlihat ini, mungkin muncul pertanyaan: jika dampaknya sebesar itu, kenapa masih banyak orang yang memilih menempuh jalan sunyi? Kenapa mereka enggan mencari bantuan?
Ada banyak alasan di baliknya, tapi dua alasan yang paling sering muncul adalah stigma sosial dan anggapan bahwa biaya konsultasi itu mahal.
Banyak dari kita takut dicap sebagai 'orang aneh' atau 'lemah' jika ketahuan pergi ke profesional. Stigma ini begitu kuat sampai kita lebih memilih untuk menderita diam-diam. Selain itu, ada anggapan bahwa biaya konsultasi itu pasti sangat mahal, sehingga mengurungkan niat untuk mencari bantuan profesional.
Mungkin Anda berpikir, "Kalau begitu, bagaimana caranya?" Jangan khawatir, karena hambatan biaya tidak lagi harus menjadi penghalang. Kabar baiknya, Anda bisa memanfaatkan layanan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dari BPJS Kesehatan.
Ya, BPJS Kesehatan menanggung biaya konsultasi dengan psikiater dan psikolog klinis. Ini adalah hak Anda sebagai peserta. Prosedurnya pun sederhana:
- Pergi ke puskesmas atau klinik terdekat yang terdaftar sebagai Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) Anda.
- Sampaikan keluhan dengan jujur pada dokter umum di sana tentang apa yang Anda rasakan. Ceritakan gejala fisik dan mental yang Anda alami.
- Jika dokter menilai Anda butuh penanganan lebih lanjut, mereka akan memberikan surat rujukan ke rumah sakit yang punya layanan poli jiwa atau psikiater.
- Dengan surat rujukan itu, Anda bisa datang ke rumah sakit untuk bertemu psikiater. Di sini, Anda bisa mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat, baik itu terapi maupun resep obat, tanpa perlu memikirkan biaya.
Menyadari bahwa kita tidak baik-baik saja adalah bekal awal dan langkah yang sangat berani. Jangan biarkan masalah yang tersembunyi ini pelan-pelan merenggut kebahagiaan Anda.
Jangan lagi takut stigma atau terhambat biaya. Manfaatkan hak Anda sebagai peserta BPJS Kesehatan. Mengambil langkah untuk mencari bantuan bukan tanda kelemahan, melainkan bukti keberanian dan kepedulian pada diri sendiri.
Oleh: dr. Anisa Naziha